Tahun 2013 aku sekolah di Sengkang-Wajo. Dan disinilah ceritaku dimulai.
Aku sekolah di Pesantren yang sangat terkenal di Indonesia. Madrasah Aliyah As'adiyah Puteri Pusat Sengkang. As'adiyah begitulah yang dikenal oleh masyarakat. Aku tinggal di asrama selama 3 tahun. Dan pastinya saya jarang pulang. Pulangnya pas bulan ramadhan saja.
Tapi saya tidak akan bercerita tentang bagaimana aku menjalani hari-hariku di pesantren.
Tahun 2016. Aku kelas 3 Madrasah Aliyah. Ketika hp asrama berdering dan itu panggilan untuk saya. Dari Ibu "Bapak sakit dan masuk rumah sakit". Rasanya hampa, sakit dan ngilu. Pertama kalinya mendengar Beliau sakit dan terbaring di rumah sakit.
Seharusnya saya pulang melihat Bapak sakit tapi saya tidak pulang melihatnya. Bulan itu saya di masa-masa ujian akhir nasional harus sekolah sore dan harus belajar maksimal.
Selesai Ujian Akhir Nasional saya baru bisa pulang. Belum sampai depan pintu saya sudah merasakan pilu yang sangat mendalam. Rasanya benar-benar sakit.
Bapak terbaring dan raut mukanya sangat jelas dia merasakan sakit. Kesedihanku pilu seketika Bapak menangis dengan kerasnya karena tidak tahan sakit. Ya Tuhan kenapa mesti dia sakit seperti itu padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanda dia memiliki penyakit serius.
Tangisku pecah saat orang dirumah menggantikan sarung yang ia kenakan. Puncak dari kesedihan dan rasa sakit yang begitu sesak. Saya duduk, terdiam dengan air mata yang terus jatuh. Dalam hati "tidak mungkin dia akan secepat itu meninggalkan saya". Rasanya saya ingin marah perihal orang menggantikan sarungnya pertanda dia akan hilang dari hidupku. Pilu dan Amarah bersahut-sahutan melihat Beliau dengan segala rasa sakitnya.
Jangankan sakit, harapanku untuk dilihat dengan segala planning kesuksekanku hilang dan putus asa. Begitu sakitnya, begitu pedihnya, begitu pilunya menyaksikan kisah yang demikian. Jiwa dan pikiran berkecamuk tidak jelas dan tidak siap untuk kehilangan. Begitulah yang kurasakan beberapa jam menyaksikan apa yang didepan mata.
Tapi, Tuhan berkata lain. Dia tidak akan meninggalkanku. Dia masih ada. Nyawa itu masih tetap mau hidup ditubuhnya. Mungkin memang belum waktunya dan aku memang tidak siap untuk itu.
Bapakku dengan segala rasa sakit yang pernah kamu rasakan dan aku pilu melihatmu. Sederhana yang aku inginkan, aku tidak ingin lagi melihatmu sakit. Karena sakitmu pilu bagiku.
Nama : Nanna Fitri Amalia
Nim : 50500116047

Tidak ada komentar:
Posting Komentar